KEMANG-RADAR BOGOR, Melaksanakan protokol kesehatan dengan sangat ketat, karena berada di perbatasan antara kota dan kabupaten, Sekolah Islam Terpadu (SIT) Ummul Quro pilih sistem drive-thru dalam pembagian rapor anak didiknya.

 

Senin (15/6/2020), giliran jadwal anak kelas 6 yang mengambil rapor secara drive-thru di sekolah yang berada dibilangan Kemang itu.

Satu persatu orang tua berdatangan menggunakan kendaraannya masing-masing. Dari rumah, mereka telah menyiapkan sebuah kertas bertuliskan nama anak mereka beserta kelasnya.

Jadi, mereka tinggal menunjukkan kertas tersebut lewat jendela agar bisa dilihat gurunya. Hal itu dilakukan agar meminimalisir komunikasi yang terjadi antar orangtua dengan para guru.

Ketua Satuan Tugas Covid-19 Yayasan Ummul Quro Bogor, Fauzi Nahdi menerangkan, pihak sekolah sudah menerapkan jam untuk tiap masing-masing kelas.

“Mulai kelas 6A mulai jam 8-9, kelas 6B mulai jam 9-10, dan seterusnya, jadi orangtua juga sudah diberitahu itu. Sehingga mereka harus datang tepat waktu. Kalau lebih, harus koordinasi dengan walikelas masing-masing, kalau kurang, kami minta muter-muter dulu, gak bisa masuk harus sesuai jadwalnya,” bebernya kepada Radar Bogor.

Dalam penerapan di lapangan, Fauzi menjelaskan, ada beberapa check poin yang disediakan sekolah. Check poin pertama di jalan raya pintu masuk kawasan SIT UQ. Di sana ada security berjaga memastikan apakah orangtua yang datang sesuai dengan jadwalnya.

Jika sesuai, orangtua murid masuk ke check poin kedua, yaitu pengecekan suhu tubuh. Bagi yang suhu tubuhnya normal, orangtua memasuki check poin tiga, yaitu pengecekan kembali nama siswa.

Namun jika suhu tubuh salah satu yang ada di mobil tinggi, pihak sekolah meminta orangtua menunggu di parkiran mobil, pihak sekolah yang menggunakan alat pelindung diri (APD) yang mengantarkan rapor ke mobil.

Bagi yang sudah lolos, orangtua sudah tinggal berhenti di meja pengambilan rapor dan disambut oleh walikelas masing-masing dan semua guru lainnya.

“Intinya semua proses tidak membuat orangtua keluar mobil, dan itu gak boleh. Semua harus diam di kendaraannya masing-masing,” bebernya.

Fauzi berharap, ini menjadi percontohan, khususnya bagi sekolah islam terpadu lainnya di Indonesia. Sehingga membuat aman dan nyaman semua warga sekolah, baik anak maupun guru. (ran)

 

Sumber : Radar Bogor Edisi 16 Juni 2020

 

Share:
Share: