MENUMBUHKAN ADAB DAN EMPATI:
ESENSI PROGRAM MBG DI LINGKUNGAN SEKOLAH ISLAM TERPADU
Oleh: Riska Damayanti, S.Pd.
Sejak awal tahun 2026, sekolah kami menyambut kehadiran Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tentunya ini membawa rasa syukur atas kebaikan yang ditawarkan oleh pemerintah. Siswa dan guru yang tak sempat membawa bekal pun kini tak perlu khawatir dengan adanya program ini. Program ini kini bukan sekadar tentang pemenuhan nutrisi fisik bagi para siswa. Di lingkungan sekolah Islam Terpadu, program ini bertransformasi menjadi sebuah media pembelajaran langsung (living curriculum) yang sarat akan nilai-nilai adab, ukhuwah (persaudaraan), dan empati sosial.
Meskipun mayoritas siswa di sekolah Islam Terpadu atau modern didominasi oleh kalangan ekonomi menengah ke atas, kehadiran MBG justru menjadi momentum emas untuk mengikis sekat eksklusivitas. Mereka dapat makan bersama di kelas dengan makanan yang sama, mereka belajar bahwa makanan adalah rezeki yang sakral, sekaligus jembatan untuk menumbuhkan rasa sosialisasi yang positif.
Sejak awal murid sudah dibiasakan dalam pembiasaan budaya tertib dan doa bersama sebagai adab sebelum makan ataupun melakukan hal lainnya. Islam adalah agama yang sangat mengedepankan adab sebelum ilmu, termasuk dalam hal makan. Melalui program MBG, sekolah membudayakan rutinitas yang terstruktur demi membentuk karakter siswa:
- Kebiasaan Tertib: Sebelum makanan dibagikan, siswa dilatih untuk sabar mengantre, mencuci tangan dengan bersih, dan merapikan tempat makan mereka. Tidak ada yang tergesa-gesa atau berebut.
- Melangitkan Doa Bersama: Dipimpin oleh salah satu siswa secara bergantian atau bersama-sama, ruang kelas bergema dengan doa sebelum makan. Momen ini bukan sekadar ritual, melainkan pengingat bahwa setiap bulir nasi yang tersaji adalah berkah dari Allah SWT yang harus disyukuri.
Sosialisasi yang positif makan bersama di dalam kelas menciptakan atmosfer yang cair dan hangat. Di sinilah interaksi sosial yang sehat terbangun antar-teman dan juga walas pendamping maupun guru.
"Makan bersama mampu meruntuhkan dinding pembatas. Di momen ini, guru tidak hanya mengajar, tetapi mendampingi dan membaur, menciptakan kedekatan emosional yang tulus dengan para murid."
Siswa saling mengobrol, berbagi cerita, dan belajar mendengarkan satu sama lain. Lebih dari itu, tumbuh budaya saling berbagi. Siswa yang membawa buah atau camilan tambahan dari rumah tidak ragu untuk menawarkannya kepada teman di sebelah atau kepada guru mereka. Saling memberi ini mempererat rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah.
Bagi siswa yang terbiasa dengan fasilitas berkecukupan di rumah, menu makanan yang disajikan dalam program MBG mungkin berbeda dengan menu harian mereka. Namun, di sinilah letak keindahannya. Di sekolah Islam, mereka diajarkan untuk:
Menghargai Bentuk Makanan: Tidak ada keluhan atau ejekan terhadap menu yang disajikan. Semua siswa, tanpa memandang latar belakang, menikmati hidangan yang sama dengan rasa hormat.
Prinsip Zero Waste (Tidak Membuang Makanan): Siswa diajarkan prinsip bersyukur dengan cara menghabiskan apa yang sudah diambil. Membuang-buang makanan (tabzir) sangat dihindari karena merupakan perilaku yang tidak disukai Allah.
Membuka mata, membangun empati sosial salah satu capaian terbesar dari program MBG di sekolah Islam Terpadu adalah lahirnya kesadaran sosial yang tinggi. Melalui bimbingan para guru, siswa diajak melihat realitas di luar dinding sekolah mereka.
Mereka belajar mengapresiasi program MBG ini dengan kesadaran penuh bahwa di luar sana, masih banyak anak-anak seusia mereka yang berjuang keras hanya untuk mendapatkan sepiring makanan bergizi. Kesadaran ini melahirkan rasa syukur yang mendalam (deep gratitude). Mereka tidak melihat MBG sebagai fasilitas gratisan biasa, melainkan sebagai pengingat amanah untuk peduli terhadap sesama.