Para Guru di seluruh Indonesia mengikuti Silaturahim Merdeka Belajar melalui zoom dan live streaming You Tube KEMENDIKBUD RI, Kamis, 2 Desember 2021, Pkl. 15.30 – 17.00, pada episode 16 kali ini mengangkat tema “Bincang Inspiratif Bersama Pendidik Inovatif”.
Narasumber Iwan Syahril, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek, Sumarni Guru SLB Negeri 2 Makasar, Sulawesi Selatan, Made Pujangga, guru SMA Negeri 1 Basarang, kalimantan Tengah, Anis Shaidah Ulfah, Kepala SDIT Ummul Quro(UQ), Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Para narasumber guru dan kepsek adalah para peserta yang telah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan Tahap 1 Guru penggerak, sekolah penggerak juga peserta aktif dalam program Guru Berbagi.
Iwan Syahril menyampaikan bahwa Tujuan dari ketiga program di atas adalah tercapainya prinsip Merdeka Belajar, semua berorientasi pada Murid. Orientasi yang super fokus kepada murid ini adalah sebuah visi & filosofi dalam bagaimana kebijakan dan keputusan diambil oleh pemangku kepentingan.
Pola pendidikan kita sudah bergeser dari paradigma yang tadinya ujian nasional, fokus pada konten menjadi kepada asesmen nasional yang lebih fokus pada keterampilan yang pondasinya numerasi, literasi dan karakter. Karenanya perlu ada perubahan secara nasional. Perubahan ini kuncinya pada kepemimpinan. Karenanya dimulailah pendidikan dan pelatihan kepada kepala sekolah dan pengawas dalam program sekolah penggerak. Para Pemimpin ini diharapkan akn jadi agen perubahan, tidak lagi fokus pada administrasi sekolah tapi fokus pada murid.
Visi Sekolah di Indonesia ke depan berorientasi pada murid, Budaya Sekolah adalah budaya reflektif baik program maupun pembelajaran, lingkungan sekolah aman, nyaman, menyenangkan dan kondusif, hasil belajar meningkat dari waktu ke waktu.
Ketiga program ini lahir karena kondisi pandemi. Berangkat dari sebuah kesadaran tentang realitas Indonesia yang sangat kompleks, tantangan tiap negara tidak sama. Meski Mendikbud sudah mengeluarkan surat edaran dan panduan, namun terlihat bahwa perlu ada sebuah wadah atau platform dimana guru-guru di Indonesia bisa berbagi strategi terutama tentang bagaimana pembelajarannya, RPP, video bahkan juga aksi kolaborasi yang ada di semua jenjang mulai dari TK sampai SMA dan juga semua mapel. Ternyata di program guru berbagi ini sambutannya luar biasa, guru-guru Indonesia sungguh melebihi ekspektasi, mengagumkan, sudah diakses lebih dari 160 juta kali, didownload 30 juta kali, sudah ada 200 video. Ini bantahan mengenai stigma guru-guru di Indonesia tidak berdaya. Bahkan guru-guru di pelosok juga ikut aktif.
Bahkan dalam konteks global, ketika Iwan Syahril bercerita tentang program ini kepada teman-teman di luar negeri selalu membuat kekaguman dari negara lain yang diajak diskusi tentang ini. Guru-guru Indonesia adalah guru yang senang belajar dan sangat tangguh dalam menghadapi kondisi pandemi ini.Para narasumber dari 3 sekolah ini menyampaikan pengalaman mereka dan kesannya terhadap program yang telah diikuti ini. Kepala Sekolah SDIT UQ, Anis menyampaikan awalnya ragu untu ikut serta dalam program sekolah penggerak ini. Tapi setelah melihat prosesnya sangat transparan dan lebih otentik, apa yang sekolah miliki itu yang dinilai, tidak melalui regulasi yang berbelit-belit. It’s OK, Bismillah saya coba, ungkapnya.
Setelah mengikuti program ini beliau merasa punya navigasi sebagai masinis sekolah membawa gerbong guru-guru kami, siswa kami lebih terarah apa yang harus dilakukan. Yang membuat lebih tenang lagi karena ternyata sangat peduli dengan pendidikan karakter. Kami sekolah Islam terpadu mencoba memadukan kurikulum agama dan umum dalam satu kurikulum yang tidak terpisah.Ada namanya Project Pancasila, yang agamis dan religius, tapi juga mengenalkan kearifan lokal, kreatifitas, ini yang kami kejar, ini rumah kami, kami bisa membuat inovasi design pembelajaran. Kami lebih memenuhi kebutuhan anak dan sekolah. Yang paling bersyukur ternyata sekolah swasta juga mendapat perhatian pemerintah. Kata “Terpadu” dijadikan singkatan dari pola pembelajaran di sekolah kami. T adalah Telaah, E adalah Eksplorasi, R = rumuskan, P = presentasikan, A = aplikasikan, D = Duniawi, U = Ukhrowi.Contoh pembelajarannya di mata pelajaran IPA, siswa belajar tentang rangka, mereka melakukan telaah rangka yang ada di tubuhnya lalu mulai melakukan eksplorasi dengan mencari informasi dari buku dan internet, lalu siswa merumuskan berdasar literasi tadi, setelah itu mempresentasikan apa yang sudah dirumuskan, bisa dengan membuat rangka dari kertas atau karton, membuat robot, membuat animasi, banyak kreatifitas yang bisa muncul, kemudian diaplikasikan ke rangka tubuh mereka sendiri, dijelaskan mengenai hal yang terkait duniawi, dimana siswa harus menjaga rangka tubuh mereka dengan olahraga dan makan makanan yang baik untuk tulang, untuk sisi ukhrowi, siswa diingatkan untuk selalu bersyukur dengan cara bersedekah dengan tiap sendi tubuhnya lewat sholat Duha.
Semoga tercapai tujuan dari semua program ini yaitu meredeka belajar dan orientasi pendidikan fokus pada murid demi terciptanya generasi masa depan yang bisa bersaing di dunia Internasional dan memberikan kebanggaan untuk Indonesia.
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=GefMxXZ1zg0
Read more