MENU

SDIT UMMUL QURO – Menginternalisasi Nilai Keislaman

SDIT UMMUL QURO – Menginternalisasi Nilai Keislaman

Berdiri pada tahun 1996, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ummul Quro, Bogor, Jawa Barat, mempunyai visi mewadahi anak dengan pendidikan Islami. Didirikannya SDIT bertujuan untuk melahirkan Sekolah Islam Terpadu pertama di kota hujan.

Berlokasi di Jalan KH. Sholeh Iskandar No. 1 Parakan Jaya, Kemang, Bogor, sekolah ini terus mengalami perkembangan positif hingga saat ini. Kepala SDIT Ummul Quro Anis Saidah Ulfa menjelaskan, sekolah ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang sekolah Islam.

“Awalnya (berdiri) ingin melahirkan  pertama kali SIT di Bogor. Belum ada yang lain. Kita juga ingin mewadahi kader-kader untuk mendapatkan pendidikan yang layak sesuai visi kita,” ujar Anis kepada Republika, Senin (29/5).

Lembaga pendidikan berbasis keislaman di luar pesantren kini sudah mulai menjamur diseluruh Indonesia. Banyak di antaranya tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Sejak berdiri, kata Anis, masyarakat setempat menyambut baik kehadiran SDIT Ummul Quro. Kehadiran sekolah tersebut lambat laun dikenal luas masyarakat hingga ke luar kota. Saat ini, jumlah siswa mencapai 776 siswa.

Anis mengungkapkan, masyarakat waktu itu cukup haus akan suasana sekolah dengan konsep yang baru. Mengusung konsep full day dan pembiasaan nilai-nilai keislaman membuat masyarakat menganggap SDIT Ummul Quro dapat dijadikan sekolah alternatif. “Jadi cukup responsif dan dijadikan satu-satunya sekolah alternatif yang memang bagus dari keislaman,” kata Anis.

Mengedepankan nilai-nilai keislaman membuat sekolah ini berbeda dengan sekolah lainnya. Sekolah seoptimal mungkin mencoba menginternalisasi nilai Islam terhadap keseharian siswa. Di samping itu, pembelajaran Al Quran juga ditekankan di sekolah tersebut.

Menurut Anis, kerja sama dengan orang tua dan murid adalah hal utama yang dilakukan sekolah guna menanamkan nilai keislaman tersebut. Menyamakan persepsi antara sekolah dan orang tua yang biasanya dilakukan pada awal tahun.

Evaluasi orang tua terkait karakter anak pun sering dilakukan oleh sekolah setiap pertengahan semester. Terkadang sekolah memanggil langsung orang tua ke sekolah. Tujuan evaluasi bersama agar semua mengetahui perkembangan anak. Ditambah dengan berbagai program penunjang yang berkaitan dengan budaya yang diusung oleh sekolah. “Yang terpenting kerja sama dengan orang tua,” kata Anis.

Anis menjelaskan aktivitas sekolah setiap hari. Dari pukul 07.30 – 08.00 WIB, siswa rutin mengikuti pertemuan pagi dengan wali kelas. Dari pertemuan tersebut terdapat pembiasaan keislaman, seperti muraja’ah Al Qur’an dan tilawah. Termasuk ada upaya penguatan karakter dan evaluasi aktivitas di hari sebelumnya. Ada pula sharing siswa kepada wali kelas dan digelar juga kuliah tujuh menit (kultum). Usai kegiatan tersebut, mereka mulai memasuki ruang kelas guna mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Pukul 10.00 WIB, siswa kembali istirahat, tapi sekolah mengisinya dengan pembiasaan nilai-nilai Islam. Shalat sunah dhuha, makan dengan cara Islami dan berwudhu. Aktivitas tersebut mendapatkan pengawasan penuh dari guru. Setelah mereka kembali ke kelas hingga masuk waktu shalat Zuhur, dilakukan muraja’ah atau tilawah sebelum shalat. Setelah itu, mereka kembali ke kelas hingga Ashar.

“Sebelum Ashar, ada refleksi tentang (kegiatan) hari ini, evaluasi harian, pulang jam 16.00 WIB, mereka berkemas sambil melantunkan asmaul husna,” ujarnya. Anis menambahkan, kegiatan muraja’ah tersebut berkaitan dengan target sekolah agar lulusannya minimal mampu menghafal Al Quran satu juz. Namun, Anis mengaku, sekolah memberikan bimbingan khusus kepada siswa yang mempunyai kemampuan lebih terkait hafalan Al Qur’an.

Mereka akan diberikan fasilitas pesantren Al Qur’an yang dibimbing oleh guru khusus. Dari bimbingan tersebut, kata Anis, ada yang mampu menghafal sampai enam juz Al Qur’an. Meskipun bukan sekolah negeri, sekolah ini mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya. Sekolah ini, menurut Anis, mampu menyebarkan visi sekolah ini ke lembaga pendidikan lainnya. Sehingga, banyak  sekolah melakukan studi banding ke SDIT Ummul Quro.

Lulusan dari SDIT Ummul Quro juga mampu bersaing dengan lulusan lembaga pendidikan lainnya. Itu dapat dilihat dari nilai mereka di sekolah yang baru, baik di SIT maupun di luar itu. Sekolah pun menyiapkan peningkatan kualitas guru dengan maksimal dan agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Yayasan. “Setiap lima tahun sekali akan berubah, ada hal baru yang mesti kita kaji. Harus bergerak,” kata Anis menegaskan.

Sumber : Dialog Jumat Republika Edisi Jumat, 2 Juni 2017 Halaman 6

KOMENTAR