MENU

Cerdas Mendidik Remaja

Orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam keluarga.  Dari orang tualah, anak-anak mendapatkan sentuhan kasih sayang  dan pendidikan yang baik. Semenjak anak lahir sampai menginjak usia remaja, orang tua (terutama ibu) berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan anaknya. Warna-warni kehidupan anak sangat ditentukan oleh kedua orang tuanya. Maka pendidikan dalam keluarga sangat menentukan kepribadian anak sampai usia remaja.

Mendidik remaja bukanlah perkara mudah. Banyak kendala dan masalah yang akan dihadapi orang tua  dalam melaksanakan perannya itu. Apalagi bagi orang tua yang tidak mempunyai modal yang jelas dan bekal yang banyak dalam mendidik anak-anaknya. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini, anak mengalami perubahan yang signifikan dalam dirinya baik secara fisik maupun secara psikis.

Secara Psikologi ,  remaja tengah mengalami masa pubertas. Sebuah masa sulit bagi dirinya untuk menentukan identitas diri yang penuh dengan romantika. Maka  tidak jarang kita menemukan sifat-sifat  dalam diri remaja seperti sulit di atur, tidak semangat belajar, butuh perhatian lebih, sudah mulai melirik pada lawan jenis, suka memberontak dan  bahkan tidak jarang pada usia ini, anak terjerumus dengan pergaulan bebas dan kenakalan remaja.

Untuk mendapatkan hasil pendidikan yang maksimal bagi anak remaja, maka ada empat strategi pendidikan yang harus menjadikan perhatian bagi orang tua dan guru kemudian mempraktekkannya dalam kehidupan keluarga  dan sekolah secara konsisten dan berkelanjutan :

Pertama: Mendidik  anak remaja dengan lemah lembut. Orang tua yang cerdas akan mendidik dan membimbing anaknya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dengan cara ini, anak akan merasakan sentuhan batin  yang membahagiakan dirinya. Ketika  remaja  membuat keonaran dan banyak masalah, tidak bisa diselesaikan  dengan cara yang keras lagi kasar. Memang kelihatannya masalah akan selesai  dengan segera namun akan menimbulkan masalah baru yang membuat diri anak tidak menyukainya bahkan berusaha menghindar dari orang tuanya. Apabila hal ini yang terjadi, maka tentunya kebaikan yang disampaikan orang tua pada anak tidak  membuahkan hasil. Yang dibutuhkan anak adalah kasih sayang yang tulus, perhatian yang penuh dan bimbingan dengan tutur kata yang santun dan sikap yang lemah lembut. Dengan demikian akan terjalin keharmonisan hubungan anak dengan orang tuanya.

Kedua: Membangun dialog dan diskusi yang baik dalam keluarga. Orang tua yang cerdas akan berusaha menjalin komunikasi dan interaksi yang baik dengan anak remajanya. Jangan sampai ada gave (pembatasan) antara dirinya dengan anaknya. Banyak masalah yang dialami remaja justru menjadikan selain orang tuanya sebagai tempat curhat (curahan hati) sebut saja pada temannya atau melalui Facebook yang tentu bahayanya lebih besar. Sering kita mendengar berita korban Facebook dari kalangan remaja karena tersumbatnya komunikasi anak dengan orang tuanya. Untuk itu, orang tua harus cerdas mencari momen penting agar dapat menjalin komunikasi sekaligus menyatukan hati dengan anak remajanya. Salah satu caranya dengan sering dialog dan berdiskusi tentang banyak hal terutama berkaitan dengan masalah yang dihadapi anak remajanya.

Ketiga: Memberikan nasehat yang menuntun. Anak remaja dalam perjalanan hidupnya tentu banyak mengalami masalah. Sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah anak, nasehat orang tua sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, orang  tua harus arif dan bijaksana tentang bagaimana nasehat yang diberikan itu. Karena hal itu akan membawa kesejukan bagi anaknya dan sarat dengan petuah-petuah yang berisikan tuntunan. Tidak jarang kita temui, bahwa anak antipati terhadap  nasehat orang tua karena tidak tepat waktu menesehati dan terlalu banyak nasehat yang diberikan  melebihi kebutuhan diri anaknya.

Keempat: Pujian yang tulus. Semua orang senang dipuji dan tak suka dicaci. Demikianlah juga halnya  anak remaja kita. Untuk itu, orang tua yang cerdas  harus dapat memanfaatkan kecendrungan ini. Agar tidak berat  baginya untuk memuji anaknya ketika melakukan sesuatu yang positif dan tidak mudah mencaci maki ketika anaknya melakukan perbuatan negatif.

Memuji dan mencaci adalah hal yang saling berseberangan dan memberikan pengaruh yang bertolak belakang bagi anaknya. Memuji anak  bukanlah asal memuji tetapi memujinya dengan pujian tulus yang lahir dari lubuk hati terdalam dan semangat untuk membahagiakan anaknya . Dengan demikian, anak kita merasa mendapatkan penghargaan dari orang tuanya.


Sumber :http://www.dakwatuna.com/2014/05/09/50984/cerdas-mendidik-remaja/#ixzz5XYAolBtx

KOMENTAR