MENU

SMPIT UMMUL QURO BOGOR: MOTÉKAR, BERPRESTASI, DAN BERKARAKTER

SMPIT UMMUL QURO BOGOR: MOTÉKAR, BERPRESTASI, DAN BERKARAKTER

Oleh:
IDRIS APANDI
(Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Barat, Penulis Buku Gerakan Literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter)

Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Ummul Quro Kemang Kabupaten Bogor merupakan salah satu sekolah yang sejak tahun 2016 ditunjuk menjadi sekolah sekolah rujukan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Direktorat Pembinaan SMP Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud.

Sekolah ini berdiri tahun 2002. Saat ini memiliki 601 siswa dan terdiri dari 22 rombongan belajar, dan memiliki guru dan stafnya sebanyak 64 orang. Kurikulum yang digunakan selain kurikulum nasional (Kurikulum 2013), juga menggunakan kurikulum khas atau lokal, yaitu: tahsin, tahfiz quran, dan bahasa Arab.

Tampak dari luar, sekolah yang terdiri dari tiga lantai ini terlihat asri dan megah. Kesan pertama ketika saya datang ke sekolah ini adalah ramah dan bersih. Di pintu gerbang sekolah, saya bersama rekan saya diterima oleh seorang petugas keamanan sekolah. Kami menyampaikan maksud kedatangan kami, lalu kami pun diantar menuju ruang kepala sekolah. Sambil menuju ruang kepala sekolah, mata saya pun tertuju kepada tempat menyimpan sepatu yang berada di depan kelas. Di tempat sepatu tersebut, tampak puluhan sepatu yang disimpan dengan rapi. Kelas tampak hening. Saya sejenak melihat melalui kaca jendela kelas. Ternyata di sekolah tersebut sedang dilaksanakan Penilaian Tengah Semester (PTS).

Saya beserta rekan saya sampai ke ruang kantor. Melihat petugas keamanan membuka sepatunya, maka kami pun membuka sepatu, karena di sekolah tersebut ada aturan harus membuka alas kaki kalau masuk ke ruangan. Kami pun masuk ke ruang kantor. Di depan ruang kepala sekolah, sudah menunggu Kepala SMPIT Ummul Quro, Suhandi, M.Pd.I. Dengan wajah yang ramah, Beliau menyambut kami, lalu mempersilakan kami memasuki ruang kepala sekolah.

Di ruang kepala sekolah, tampak foto-foto kepala sekolah yang pernah memimpin sekolah tersebut, piala-piala, medali-medali, dan banner. Dari sekian banyak benda yang ada di ruang kepala sekolah, ada satu banner yang menarik perhatian saya, yaitu banner yang bertuliskan “MOTÉKAR” dan ada ada foto pak Suhandi, sang kepala sekolah. Dari banner tersebut saya menjadi tahu bahwa Beliau adalah juara 1 Lomba Best Practice kepala SMP tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Kemdikbud dengan judul  “Peningkatan Prestasi Sekolah melalui Budaya Motékar di SMP Islam Terpadu Ummul Quro Kabupaten Bogor.”

Secara filosofis, MOTÉKAR merupakan sebuah spirit dalam dalam bekerja dengan usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras sehingga mencapai tujuan atau hasil yang maksimal. Dan secara operasional, MOTÉKAR merupakan akronim dari beberapa konsep, yaitu MOtivasi, Target, Édukasi, Kompetisi, dan ApResiasi.

Motivasi maksudnya adalah memberikan motivasi pada diri waga sekolah menjadi satu yang pertama dan utama, karena dari sinilah mereka bergerak untuk mencapai tujuan atau cita-citanya. Target maksudnya adalah siswa, guru, maupun kepala sekolah menentukan target-target yang diinginkan, terutama berkaitan dengan capaian prestasi yang akan diraih setiap tahunnya.

Édukasi maksudnya adalah memberikan fasilitas kepada peserta didik dan guru untuk belajar. Setiap warga sekolah agar mampu memberdayakan seluruh potensi yang ada sehingga menghasilkan prestasi yang beragam dan optimal. Kompetisi maksudnya adalah kompetisi tidak sekedar lomba dalam arti kegiatan perlombaan, juga mencakup spirit yang dimunculkan untuk mempersembahkan hasil terbaik dari setiap aktivitas pembelajaran dan pekerjaan yang dilakukan.

ApResiasi maksudnya adalah setiap prestasi yang dicapai oleh warga sekolah dalam bidang apapun patut diberikan apresiasi sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormat terhadap prestasi mereka, sekaligus untuk memotivasi agar mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya.

Dari uraian yang terdapat pada banner tersebut, saya berkesimpulan bahwa Pak Suhandi sangat wajar menjadi juara 1 Lomba Best Practice kepala SMP tahun 2018, karena sebagai pemimpin, Beliau visioner, dan sebagai manajer sekolah, Beliau juga memiliki konsep yang jelas dalam menatakelola sekolah sehingga SMPIT Ummul Quro dapat menjadi salah satu sekolah unggulan, meraih berbagai prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional, dan menjadi sekolah favorit di wilayah Bogor.

Selain kepala sekolah, di ruang kepala sekolah pun sudah ada beberapa guru dan staf yang akan menjadi responden kegiatan evaluasi PPK yang kami lakukan. Adapun kegiatan yang kami lakukan adalah menyebarkan angket, mewawancarai kepala sekolah, dan melakukan observasi lingkungan sekolah.

Saat temu awal, kepala sekolah memutar video profil sekolah. Dari video tersebut kami mengetahui bahwa sekolah ini sarat dengan prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain kegiatan KBM, sekolah ini menyelenggarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang tujuannya untuk memfasilitasi dan mengembangkan minat dan bakat siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah tersebut antara lain; Ekskul Reguler : futsal, bola basket, panahan, paskibra, taekwondo, cooking, paskibra, desain grafis, desain web, jurnalistik, fotografi, melukis, handycraft, pecinta alam, dan nasyid.

Selain kegiatan ekstrakurikuler yang regular, juga ada kegiatan ekstrakurikuler yang khusus (klub prestasi) seperti: Marchingband, English Club, Science Club / KIR, Hand Ball, dan Pembinaan OSN. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler tersebut selain diprogramkan oleh sekolah, juga atas dasar usulan dari orang tua siswa, sehingga pihak orang tua proaktif dalam menyediakan pelatihnya. Dengan demikian, kerjasama antara sekolah dengan komite sekolah sudah berjalan dengan baik.

Dengan ditemani kepala sekolah, saya berkeliling, mengobservasi sekolah. Saya dibawa ke ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Di ruangan tersebut sudah ada seorang petugas jaga, namanya bu Nunung. Latar belakang pendidikanya D-3 keperawatan. Kompetensinya sesuai dengan kebutuhan untuk petugas jaga UKS. Sepanjang yang saya tahu, sekolah-seolah jarang memilik petugas UKS yang sesuai dengan kompetensinya. Biasanya, karena keterbatasan SDM, petugas UKS memberdayakan guru atau tenaga kependidikan.

Keberadaan UKS di sekolah tersebut cukup membantu untuk sebagai pertolongan pertama bagi siswa yang mengalami keluhan sakit ringan seperti demam atau sakit kepala. Dalam sehari, pengunjung UKS  rata-rata 9-10 orang. Jika sakitnya tidak bisa ditangani oleh UKS, maka siswa akan dirujuk ke puskesmas terdekat.

Setelah berkunjung ke UKS, kepala sekolah membawa saya ke ruang pengolahan nilai PTS. Ada tiga orang petugas yang sedang men-scan LJK siswa. Sekolah ini telah memanfaatkan perangkat TIK dalam memeriksa LJK. LJK tidak lagi diperiksa secara manual, tetapi menggunakan perangkat khusus. Hal ini cukup membantu proses pengolahan nilai menjadi lebih efektif dan efisien. Para pengawas menyerahkan LJK kepada panitia, lalu panitia men-scan dan memverifikasinya. Setelah selesai diolah, maka nilai diserahkan kepada guru masing-masing untuk ditindaklanjuti.

Selesai dari ruang pengolahan nilai, saya dibawa ke ruangan khusus belajar Alquran. Di ruangan tersebut, dengan dipimpin oleh seorang koordinator, para guru Alquran sedang melakukan rapat evaluasi pasca PTS. Hal ini saya kira sebagai sebuah tradisi yang baik. Guru-guru walaupun tidak ada KBM, mereka bukan berarti pulang, tetapi mereka melakukan hal lain, seperti rapat evaluasi KBM dan menentukan program peningkatan layanan mutu pendidikan kepada para siswa.

Setelah berkunjung sebentar ke ruang belajaran Alquran, saya pun dibawa untuk mengunjungi ruang kelas. Ruang kelas tampak kosong karena siswa telah selesai mengikuti PTS. Adapun kebijakan pembagian kelas di sekolah ini yaitu adanya pemisahan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Jumlah siswa dalam satu kelas antara 28-30 orang. Dalam hal guru olah raga pun, sekolah menyediakan guru olah raga laki-laki dan perempuan. Hal ini bertujuan untuk menerjemahkan visi sebagai sekolah yang berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam dan menjaga pergaulan antara kaum laki-laki (ikhwan) dan kaum perempuan (akhwat).  Siswa SMP sudah memasuki masa aqil baligh. Oleh karena itu, pergaulannya harus dijaga dan diarahkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan.

Setelah berkunjung ke ruang kelas, saya dibawa berkunjung ke ruang BK. Di dalam ruangan ada tiga orang guru yang yang menyambut kedatangan kami. Setelah diperkenalkan satu persatu, saya merasa makin kagum terhadap tata kelola sekolah ini. Ternyata sekolah ini memiliki tiga orang guru, yang menangani psikologi perkembangan dengan tiga kompetensi yang berbeda, yaitu Atikah Mardhiyah, S.Pd  yang berlatar belakang pendidikan Bimbingan dan Konseling (BK), Yetrida Rizanti, S.Psi yang berlatar belakang psikologi, dan Milda Quwwatul Irodah, S.Ag. (S.Psi.I) yang berlatar belakang psikoterapi. Sekolah menyediakan tenaga-tenaga tersebut karena ingin memfasilitasi proses belajar siswa dengan baik, menyelesaikan berbagai persoalan psikologis mereka, dan mengarahkan mereka untuk mencapai sukses.

Setiap tahun sekolah melakukan tes psikologi untuk mengetahui perkembangan belajar, minat, dan bakat para siswa. Oleh karena itu, pada tahun ajaran baru dimungkinkan ada perubahan komposisi siswa dalam satu kelas, disesuaikan dengan hasil tes. Dampaknya, banyak siswa yang berprestasi secara akademik, berprestasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, lomba, olimpiade, tahfiz quran, dan memiliki budi pekerti yang luhur.

Sebagai sekolah yang menjadi rujukan PPK, sekolah ini berupaya melakukan berbagai program untuk mengintegrasikannya baik dalam kegiatan pembiasaan, kegiatan pembelajaran (intrakurikuler), kokurikuler, dan kegiatan ekstrakurikuler. Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Pak Suhandi, dampak positif dari dijadikannya sekolah ini sebagai sekolah rujukan PPK adalah semakin menguatkan dan mengokohkan pendidikan karakter yang selama ini telah dilakukan oleh sekolah. Guru-guru pun menjadi tahu bahwa hal yang selama ini dilakukan dalam mendidik dan mengajar siswa kental dengan muatan pendidikan karakter. Oleh karena itu, para guru semakin bersemangat mendukung program tersebut.

Sekolah ini melaksanakan pembelajaran dari pagi sampai dengan sore hari. Pagi-pagi seluruh siswa disambut kehadirannya dalam kegiatan Sapa Pagi.  Selanjutnya, di kelas dimulai dengan MM (Morning Meeting) dipandu oleh Wali Kelas. Selanjutnya, dimulai KBM sesuai jadwal. Istirahat siswa diisi dengan pembiasaan ibadah dan akhlak islami. Siang hari, siswa shalat duhur berjamaah. Setelah itu, siswa makan siang bersama. Lanjut KBM sampai dengan waktu ashar. Shalat ashar merupakan bagian dari pembelajaran.

Ada satu hal yang menarik di sekolah ini, utamanya kaitannya dengan karakter integritas, yaitu guru dilarang menerima hadiah dalam bentuk apapun dari orang tua,  karena tidak boleh ada guru yang diperlakukan spesial oleh orang tua. Karena keberhasilan seorang siswa bukan karena jasa satu atau dua orang guru, tetapi keberhasilan seluruh tim. Selain itu, dalam rangka menjaga objektivitas setiap guru.

Dalam kaitannya dengan kegiatan literasi, sekolah ini telah menerbitkan majalah sekolah yang diberi nama INTELLIGENT (Intellectual Muslim Generations). Majalah ini selain menjadi wahana untuk menyebarkan informasi dan komunikasi, juga menjadi wahana untuk membangun budaya menulis di kalangan guru dan siswa SMPIT Ummul Quro. Seiring dengan digulirkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) oleh Kemdikbud, sekolah ini telah melakukannya, bahkan telah memiliki media dalam bentuk majalah. Keberadaan majalah ini pun ditunjang oleh adanya kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik dan fotografi. Hasil tulisan atau foto-foto kegiatan dapat dimuat dalam majalah ini.

Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner dan tata kelola yang baik telah menjadikan sekolah ini sebagai organisasi pembelajar. Melalui berbagai inovasi program, Pak Suhandi disertai dukungan para pendidik dan tenaga kependidikan SMPIT Ummul Quro berhasil menjadikan sekolah ini motékar, berprestasi, sekaligus berkarakter. Ingin sekolah anda maju? Silakan studi banding ke sekolah ini dan dapatkan resep manjur peningkatan mutu sekolah. Wallaahu a’lam.

KOMENTAR