MENU

Jangan Biarkan Perpustakaan Kita Membusuk

Jangan Biarkan Perpustakaan Kita Membusuk

Oleh : Ade Jaja Nurjaman

Gempuran gadget ataupun smartphone yang sangat dahsyat  pastinya memberikan dampak yang sangat besar, dan tentunya dampak yang terjadi sangat variatif dan berpengaruh pada berbagai sisi dalam kehidupan masyarakat.

Sekolah adalah lembaga yang selalu hadir dalam berbagai siklus perubahan, dan target pasar paling menjanjikan adalah sekolah. Mulai dari pasar kebaikan bahkan pasar keburukan, karena disadari atau tidak sekolah adalah lembaga peniru dan perubah jaman khususnya siswa sebagai satu bagian dari stake holder sekolah.

Jika membuka dan melansir data-data kebelakang, negara Indonesia merasa sudah biasa dengan deretan prestasi yang negatif. Pada bidang literasi khususnya, seperti data yang disampaikan oleh kompas.com menyebutkan bahwa United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan, persentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca. Jika penduduk Indonesia pada tahun 2016 berjumlah 257.912.349 jiwa, maka kita bisa memperkirakan hanya ada 25791 orang yang memiliki minat baca. Ini adalah deretan angka yang sangat  memprihatinkan.

Selain itu , menurut pendiri Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia, Trini Hayati, salah satu penyebab rendahnya minat baca anak adalah kesulitan akses untuk mendapatkan buku. Semangat baca yang tinggi pun menjadi tidak berarti tanpa adanya buku yang bisa dibaca..

"Rasa tertarik ada tapi untuk mendapatkan akses buku susah. Jadi, minat baca anak kurang," ujar Trini, seperti dikutip Kompas.com, Kamis (11/5/2017).

Sebagian besar masyarakat Indonesia kesulitan mengakses buku. Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), contohnya. Masih sedikitnya jumlah perpustakaan dan koleksi buku di wilayah NTT tak bisa dipungkiri ikut membatasi tumbuhnya minat baca.

Keadaan tadi semakin hari semakin membaik, karena jika dilihat dari sisi yang berbeda, ada banyak lembaga ataupun organisasai masa yang memiliki semangat untuk mengubah keadaan tadi, mereka adalah para pejuang literasi yang benar-benar mencurahkan kemampuan mereka untuk meningkatkan minat baca penduduk Indonesia. Kita sebagai warga negara Indonesia sangat terus berharap para pegiat literasi dan pengentas buta huruf terus bermunculan dan tentunya memberikan dampak kebaikan untuk meningkatkan minat baca seluruh warga Indonesia.

Selanjutnya jika kita beralih melihat kondisi lain, keadaan masyarakat perkotaan khususnya, yang dibanjiri berbagai anugerah berupa fasilitas perpustakaan. Ternyata keadaanya tidak lebih baik jika dibandingkan dengan wilayah yang minim akan akses buku dan perpustakaan. Walaupun dibeberapa daerah perpustakaan didirikan dan dirintis, ternyata tidak sanggup mendongkrak minat pembacanya.

Keberadaan teknologi yang memang tidak akan pernah bisa kita pisahkan dari helaan nafas perubahan kita, sepertinya memang tidak layak jika terus dijadikan kambing hitam sebagai kontributor terbesar dalam menurunkan minat baca rakyat indonesia, karena sebelum smartphone hadirpun nyatanya kita masih disajikan beberapa fakta bahwa semangat rakyat Indonesia untuk membaca sangatlah rendah.

Peprustakaan sekolah, hadirnya tidak betul-betul memperlihatkan perannya sebagai lumbung ilmu, keberadaannya hanyalah ada saat sekolah melakukan proses akreditasi dan posisinya hanya sebagai syarat saja dan tidak benar-benar menjadi ruh sekolah sebagai lembaga pendidikan. Di universitas sekalipun, perpustakaan hanyalah tumpukan buku-buku dan bangunan antik tanpa peminat. Berbagai cara sudah dilakukan seperti memasang Air Conditioner, penataan buku yang variatif, katalog digital, namun pada akhirnya tetap saja perpustakaan sepi, membusuk, tanpa peminat.

Saat ini buku versi cetak hampir ditinggalkan, karena tidak bisa dipungkiri bahwa elektronik book sudah sangat bertebaran dengan segala keunggulannya. Dari sisi kemudahan pun elektronik book memang sangat menjajnjikan, cukuplah dengan hanya mentransfer sejumlah uang kepada penjual, maka konten buku elektronik ini akan dengan mudah di unduh. Belum lagi buku elektronik yang disebarluaskan secara gratis, itu sangat berdampak pada peredaran buku cetak.

Koran atau surat kabar sebagai salah satu media penyampai berita atau informasi pun, sudah mulai ditinggalkan, dengan berbagai alasan tentunya, mulai dari menjalankan prinsip paper less, kecepatan akses informasi, dan tentunya terbatasnya tampilan dan konten berita yang disajikan oleh koran lebih terbatas dibanding portal berita yang bisa diakses secara online.

Dengan berbagai peralihan tadi, semakin mudahnya mengkases aneka bacaan harapannya adalah  daya baca semua warga negara menigkat tanpa kecuali, yang tentunya akan berdampak posisitif bagi perkembangan negara Indonesia pada akhirnya, dan tentunya semakin banyak perpustakaan dan taman baca diseluruh daerah yang ada di Indonesia, perpustakaan banyak peminat , semua warga negara mampu meluangkan waktu khusus untuk membaca, memanfaatkan teknologi yang ada untuk menumbuhkan minat baca, perpustakaan tidak membusuk dan  negeri ini bercahaya diisi oleh generasi melek baca.

Sumber : https://www.kompasiana.com/abusagara/5a8147afdd0fa806bd03e792/jangan-biarkan-perpustakaan-kita-membusuk

KOMENTAR