MENU

SMAIT Ummul Quro Bogor - Sekolah Kepemimpinan dan Al Quran

SMAIT Ummul Quro Bogor - Sekolah Kepemimpinan dan Al Quran

Menyiapkan siswa agar  memiliki karakter kepemimpinan dan kepribadian yang baik selepas SMA membutuhkan kerja keras. Pasalnya, ketika lulus SMA, mereka akan dihadapkan dengan tantangan dan beragam dimensi kehidupan.

Itu sebabnya, penguatan nilai-nilai karakter merupakan pekerjaan rumah bagi sebuah lembaga pendidikan tingkat SMA. Terlebih, hidup pada era perkembangan teknologi yang sulit dikontrol. Anak muda dengan mudahnya melakukan interaksi lebih bebas dan luas melalui perangkat gadget.

Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Ummul Quro Bogor adalah salah satu sekolah yang menyiapkan siswanya dengan nilai-nilai kepemimpinan. Dengan tujuan agar ketika lulus nanti siswa mampu beradaptasi dengan masyarakat yang lebih luas. Kepala SMAIT Ummul Quro Ari Ariansyah menjelaskan , sekolah ini memang mengusung jargon ‘Islamic Leadership School’. Sekolah menargetkan agar mereka lebih siap ketika melanjutkan ke perguruan tinggi  dan hidup di masyarakat.

Selain itu, SMAIT Ummul Quro juga memadukan program akademik dengan Al Quran. Menurut dia, nilai-nilai kepemimpinan sangat baik jika digabungkan dengan nilai-nilai yang ada dalam Al Quran. Terlebih, sekolah ini merupakan lembaga pendidikan yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

“Kalau Al Quran jelas buat kami sebagai sekolah Islam itu menjadi ruhnya. Jadi penyemangatnya. Kaitan leadership mereka sudah SMA sudah saatnya dikuatkan dari sisi tanggung jawab, bekerja sama, sama kemandirian, karakter-karakter seorang leader,” ujar Ari  kepada Republika menjelaskan alasan sekolah fokus kepada penanaman nilai-nilai kepemimpinan dan Al Quran, Selasa (3/10).

Khusus program Al Quran, Ari menerangkan, sekolah memberi porsi jam cukup besar selama satu pekan. Menurut Ari, sebanyak delapan jam pembelajaran diberikan kepada siswa yang berkaitan dengan Al Quran. Sekolah juga menyiapkan beberapa program pendukung lainnya agar siswa mampu belajar dan menghafal Al Quran dengan baik. Seperti ziarah hafiz Quran, motivasi terkait keutamaan Al Quran. Di samping itu, ada berbagai perlombaan Al Quran.

Sekolah juga mendatangkan tokoh hafidz ke sekolah guna memberikan motivasi dan berbagi pengalaman dengan seluruh siswa. Ditambah dengan tes kenaikan khusus Al Quran dengan target yang telah ditentukan sekolah. Kegiatan lainnya, yaitu Majelis Quran yang diadakan pada waktu pagi sebelum  memulai proses belajar mengajar setiap hari. Mereka melakukan murajaah dan menghafal Al Quran.

Terkait penanaman nilai-nilai kepemimpinan, lanjut Ari, sekolah memastikan seluruh siswa mengikuti organisasi yang ada di sekolah. Selain itu, siswa juga diberikan standar kepemimpinan untuk pemula. Kemudian, ada program perkemahan alam dan social skill. Siswa akan bermukim di rumah warga dan di situ akan merancang kegiatan yang sesuai dengan kondisi setempat. “Kami hadirkan tokoh-tokoh yang terkait dengan leadership seperti  walikota,” kata Ari.

Ari mengatakan, sekolah memiliki keinginan kuat agar setelah lulus dari SMAIT Ummul Quro siswa bisa memegang prinsip. Dalam menjalani kehidupan ke depannya, kata Ari, diharapkan siswa tidak hanya karena pengaruh teman-temannya. Selain itu, lulusan diharapkan memiliki kemandirian yang kuat. Termasuk keterampilan yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Siswa juga diharapkan mampu menjaga pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah. “Karena khawatir juga heterogen di situ harus ada komitmen nilai yang harus dimplementasikan. Ini kami coba kuatkan kepada mereka,” ucapnya.

Ari mengakui tidak mudah untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter dan Al Quran kepada siswa. Menurut dia, mereka berada dalam usia yang labil. Sehingga pendekatan yang dilakukan pun harus dengan tepat. Menurut Ari, sekolah melakukan pendekatan dengan mengedepankan dialog. Jika harus memberikan hukum pun harus dilakukan dengan konsekuensi secara logis.

Ari juga menyadari bahwa kesuksesan program sekolah tidak lepas dari kualitas sumber daya manusianya. Itu sebabnya, kata Ari, berbagai pelatihan diberikan. Setiap guru baru harus melewati pelatihan dasar yang diberikan oleh sekolah seperti materi kelembagaan.

Sumber : Republika Dialog Jum’at Edisi Jum’at, 6 Oktober 2017 Halaman  6

KOMENTAR