MENU

Siswa SMPIT Ummul Quro Susun KIR Terbaik tentang Kenaikan Harga Bahan Pokok - Sempat Cekcok, Terinspirasi dari Keluhan Ibunda

Siswa SMPIT Ummul Quro Susun KIR Terbaik tentang Kenaikan Harga Bahan Pokok - Sempat Cekcok, Terinspirasi dari Keluhan Ibunda

Membuat karya ilmiah menjadi kewajiban bagi tiap siswa SMPIT Ummul Quro ketika masuk kelas 8. Seperti yang dilakukan M. Wiraka, Ilham Faizal dan juga Ariq Robbani. Secara acak mereka terpilih menjadi satu kelompok, yang membuat karya ilmiah mengenai persepsi ibu rumah tangga terhadap kenaikan harga bahan pokok di Kompleks Balitro Koramil Kayumanis.

Ide membuat penelitian karya ilmiah mengenai persepsi seorang ibu rumah tangga terhadap kenaikan harga bahan pokok, dicetuskan ketika isu tersebut sedang ramai dibicarakan ibu masing-masing siswa menjelang bulan puasa lalu.

Menurut Wiraka, karena mereka dari kelompok IPS, makanya isu tersebut membuat mereka tertarik. “Kami pingin tahu seberapa besar ibu-ibu yang mengeluh dan berapa banyak yang biasa saja, atau berapa banyak yang sudah antisipasi,” jelas pria kelahiran 2 Oktober 2003 itu.

Ilham menambahkan, mereka mulai mendatangi beberapa warung terdekat dengan Kompleks Balitro Koramil Kayumanis. Ada tiga hingga empat warung cukup besar yang lumayan lengkap menjual sejumlah bahan pokok.

“Yang kami tanyakan, seperti beras, cabai, daging,” beber Ilham. Sedangkan, untuk jumlah ibu rumah tangga, ada sebanyak 30 ibu rumah tangga yang mereka kunjungi dan diberikan sebuah kuesioner.

Hasilnya, lanjut Ilham, sebanyak 60 persen warga keberatan dengan kenaikan harga pangan yang sedang terjadi. Sisanya, sebanyak 40 persen  tidak keberatan, lantaran mereka dengan perekonomian menengah ke atas.

Dari situ juga, mereka mengetahui bahwa solusi kenaikan harga bahan pokok yaitu  membuat kawasan pangan rumah lestari yang sudah dilakukan sejumlah rumah di sana. “Jadi mereka bercocok tanam, seperti cabai dan bahan lainnya di halaman rumah untuk mengurangi biaya pembelanjaan,” ungkap pria kelahiran 28 Juni ini.

Kendalanya, sambung Ariq, selama kurang lebih tiga bulan mereka mengerjakan penelitian tersebut, sering terjadi lost komunikasi antara satu sama lain. Makanya, bagi mereka, komunikasi dalam bekerja sama sangat penting.

“Selain sabar, mencocokkan tiga pendapat jadi satu, juga komunikasi harus dijaga baik. Kami juga jadi tahu alur-alur membuat sebuah penelitian seperti apa, yang memudahkan kami membuat penelitian atau skripsi ke depannya seperti apa,” tutup pria kelahiran Bogor, 29 September 2002 ini.

Sumber : Radar Bogor Edisi Senin, 12 Juni 2017/17 Ramadhan 1438H Halaman 13

KOMENTAR